Banjir Bandang Menerjang Aceh, Sibolga-Tapanuli Tengah, Medan-Sumatera Utara, Riau-Sumatera Barat Hingga Jambi dan Sekitarnya
Pulau Sumatera, Minggu, 07 Desember 2025.
Pulau Sumatera, MediaTargetKrimsus.Com — Banjir Bandang Menerjang Aceh, Sibolga-Tapanuli Tengah, Medan - Sumatera Utara, Riau - Sumatera Barat Hingga Jambi dan Sekitarnya Mulai Hari Selasa Tanggal 25 November 2025 hingga Pasca Bencana Banjir Pada Hari Minggu, Tanggal 07 Desember 2025.
Jumlah korban meninggal akibat bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera dan Aceh terus bertambah menjadi 604 orang, berdasarkan data di situs Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB), Senin (1/12/2025), yang ter-update pada pukul 17.00 WIB.
“Sumatera Utara 283 jiwa, Sumatera Barat 165 jiwa dan Aceh 156 jiwa,” tulis BNPB dalam situs Pusatin.
Di Aceh, sebanyak 156 orang meninggal dunia, korban hilang 181 orang, dan korban luka 1.800.
Di Sumatera Barat, korban meninggal sebanyak 165 orang, korban hilang 114 orang, dan 112 orang terluka
Sementara itu, jumlah korban di Sumatera Utara mencapai 283 jiwa, 169 orang hilang, dan 613 orang.
Kondisi Aceh, khususnya di Aceh Tamiang hingga Selasa (2/12/2025) masih terkurung dalam situasi yang sangat memprihatinkan.
Banyak warga yang masih terjebak dalam bencana dan sangat membutuhkan bantuan logistik.
Semua kecamatan dan warga Kabupaten Aceh Tamiang masih terisolasi.
Total 51.726 kepala keluarga (KK) atau 206.903 jiwa mengungsi.
Sejauh ini data yang baru didapatkan, ada satu korban luka-luka dan 18 orang meninggal dunia,
Muhammad Irwan, seorang jurnalis Transmedia yang turut menjadi korban banjir, melaporkan bahwa seluruh bangunan di Aceh Tamiang luluh lantak tanpa tersisa.
Ia menyebut pemandangan yang dilihatnya hampir serupa dengan suasana tsunami, di mana bangunan hancur, puing berserakan, dan beberapa jenazah ditemukan di genangan air.
Hingga Selasa pagi, 2 Desember 2025, wilayah Aceh, khususnya Langsa dan Aceh Tamiang, masih berada dalam kondisi bencana parah.
Tidak ada akses terhadap air bersih.
Warga terjebak dalam kondisi kelaparan dan kehausan akut setelah berhari-hari tanpa menerima bantuan.
“Semua bangunan di Aceh Tamiang hancur, tidak ada yang tersisa. Ini persis seperti tsunami. Ada beberapa mayat yang tenggelam,” ungkapnya, dilansir dari tayangan CNN Indonesia.
Irwan menjelaskan bahwa selama tiga hari terakhir ia dan keluarganya, bersama warga lainnya, terpaksa mencari sisa-sisa makanan yang hanyut terbawa banjir.
Makanan instan yang basah, mie yang rusak, apa pun yang tersisa, mereka rebus dan makan untuk bertahan hidup.
“Hingga pagi ini, Selasa (2/12/2025), kondisi bencana di Aceh, terutama di Langsa dan Aceh Tamiang masih parah,” ungkapnya.
– Sebanyak 38.586 unit rumah di Aceh Utara rusak akibat bencana banjir yang melanda seluruh kecamatan di kabupaten itu. Bahkan puluhan diantaranya yang berada di pesisir kini rata dan menjadi lautan.
“Sekitar 70 rumah di gampong kami sudah rata menjadi laut,” kata seorang warga di Gampong Kuala Keureuto, Kecamatan Lapang, Aceh Utara kepada AJNN, Selasa, 2 Desember 2025.
Ia menyebutkan rumah-rumah penduduk di pesisir Gampong Kuala Keureuto merupakan lokasi didirikannya rumah bantuan untuk korban tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 silam. Namun saat ini, kata dia, malah porak-poranda tanpa sisa akibat banjir melanda daerah itu.
“Masyarakat kini memilih mendirikan tenda, pulang ke rumah saudara dan tinggal di meunasah karena sudah tidak ada lagi tempat tinggal karena semua sudah menjadi laut,” ujarnya.
Juru bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Muntasir Ramli mengatakan berdasarkan data sementara terdapat total 38.586 unit rumah yang rusak. Rinciannya rusak berat 3.970 unit, rusak sedang 12.685 unit, dan sisanya rusak ringan.
Jumlah korban bencana banjir 50.772 kepala keluarga atau 150.164 jiwa. Pengungsi 31.179 kepala keluarga atau 103. 740 jiwa. Kemudian korban meninggal dunia sebanyak 85 jiwa dan hilang 90 orang.
Sawah terendam 12.783 hektare, tambak 10.653 hektare, irigasi hancur delapan titik diantaranya rusak ringan lima titik dan rusak sedang 3 titik,” kata Muntasir.
Anggota DPR Aceh, Tantawi mengatakan sangat banyak infrastruktur rusak parah bahkan rusak total akibat banjir melanda Aceh, khususnya Aceh Utara. Baik itu jalan dan jembatan, begitupun rumah warga yang ambruk total.
“Kita berharap kepada pemerintah provinsi untuk proaktif memperjuangkan musibah ini menjadi status bencana nasional, sehingga pemerintah pusat bisa menganggarkan secara mudah untuk membangun kembali Aceh,” imbuhnya.***
Diberitakan Oleh:
*(DL - Tim Red)*
🌈🦋 🌈
#PrayForPulauSumatera #Sumatera #PrayForSumateraUtara #PrayForAceh #Banjir #Peristiwa #TamiangBanjir #Aceh #SemuaOrang


Social Header