Diduga Tempat Penitipan Anak Balita oleh Pengelola TPA Penuh Penzoliman, Sadis, Brutal dan Kekerasan Anak Tidak Manusiawi
Yogjakarta, Senin, 27 April 2026.
Yogjakarta, MediaTargetKrimsus.Com — Yogjakarta Kondusif, Minggu 26 April 2026 Dalam ajang tajuk acara Diskusi lnteraktif, Bedah kasus - kasus krusial yang mangkrak di Forum Komunikasi "RUMAH DOA GAKORPAN # MILKHA INDONESIA di Cirendeu Permai lV Yang digagas Dr. Bernard BBBBI Siagian SH., MAkp., Prof. Dr. Seto Mulyadi Psi., Msi., Pakar Anak, David Sianipar SH., MH., Praktisi Hukum DPP. GAKORPSN, Bunda Cici Milkha, Marcel Gerungan Phd., Suprianto, Bunda Nelly Pardede Aktivis perempuan PPWI GAKORPAN, Bunda Rodlenny Pangaribuan beserta 500 peserta aktivis anti Rasuah, jurnalis dan Tokoh - tokoh Nusantara, PPWI, Sarjana Pancasila Pemuda Batak Bersatu, LMP 5 wilayah ibukota BPKB, Pemuda Pancasila Yahya, Kembang Latar Bang Bleck, Chelsea Maria Gracia Siagian, Ellia dan Fellicya Lama Sabahtani sosok aktivis anti rasuah unsur dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Umum & Gigi, Fakultas Hukum UKI Debby Graciella
Natasya Siagian dkk.
Topik pembahasan serta merta adalah amat sangat Miris kali terbetik khabar up date terkini wong cilik tiba-tiba meledak teragedi kemanusiaan skandal zombie yang mengerikan. Kemudian jadi mimpi buruk para orang-orang tua mereka yang masih punya anak balita di Little Aresha Daycare, Sorosutan, Kec. Umbulharjo Yogjakarta.
Tempat penitipan anak(TPA), yang dipasarkan sebagai katanya solusi modern bagi orang tua yang super sibuk. Namun ini justru menjadi arena kekerasan Anak rentan bentuk penelantaran anak, sangat brutal terhadap anak - anak bangsa yang dititipkan dari balita usia 2 bulan hingga 8 tahun... Hello Polisi Presisi...!!?⁉️.
Pihak Polisi Polresta Yogyakarta yang menerima laporan dari masyarakat langsung Presisi Polri upaya menggerebek dan menyegel lokasi itu pada hari Jumat (24 April 2026) bersama Tim lnvestigasi GAKORPAN Yogjakarta La John. Pada sore hari setelah menerima laporan GAKORPAN PRESISI, GERCEP & berani dari seorang mantan karyawan. Perempuan itu tak tahan melihat perlakuan yang tidak manusiawi; ditambah ijazahnya pun ditahan oleh pengelola TPA penuh penzoliman dan kekerasan anak...
David Sianipar SH., MH., Pakar hukum anak menceritakan kepada DPP GAKORPAN Bahwa pada saat penggerebekan, petugas langsung menyaksikan pemandangan yang miris kali, sadisme dan bikin darah mendidih: puluhan balita dibiarkan tidur dilantai menangis meraung raung.lapar, telanjang namun hanya mengenakan popok, tidur di lantai dingin tanpa sesuatu alaspun alamak... zang... itu anak penerus bangsa kita. Namun tanpa bantal, tangan dan kakinya pun diikat kain kayak hewan peliharaan. Katanya shock therapist agar tidak rewel nangis melulu di bentak pula.
Adapula wajah mereka yang lebam-lebam juga penuh semut di tubuh, ada yang juga panas meriang rewel dan sering sakit parah hingga ISPA Bronchitis serta sesak nafas karena gangguan paru-paru, ada pula yang dikunci disetrap ala tentara di mandiin biar basah ga nangis melulu di toilet.
Fasilitas yang dijanjikan penuh ventilator dan AC mekanisme ruangan nyaman di brosur serta review aplikasi online?❓
Kenyataannya bohong nol besar, ternyata cuma pake hanya kipas angin plus ventilasi minim yang membuat orang dewasa pun pengap, sumuk, gerah dan tak akan betah pula.
Bunda Nelly Pardede aktivis wartawati PPWI GAKORPAN pun mengatakan Biaya penitipan per satu anak balita berkisar Rp1-1,2 juta per bulan ternyata hanya membeli nuansa penderitaan kekerasan anak hakiki...
Bubda Marluana Aktivis Perempuan GAKORPAN memprediksi, total adalah berkisar 103 anak pernah dititipkan di sana.
Dari jumlah itu, 53 Orang hanya terverifikasi mengalami kekerasan fisik dan kekerasan verbal bentakan traumatis psychis
Bunda Cici Milka menghimbau Aparat Penegak Hukum yakni Polisi baru mengamankan sekitar 30 orang dan menetapkan 13 orang tersangka belum juga dalang atau otak kriminalisasi kekerasan fisik, psychis anak tersebut, termasuk Kepala Yayasan, kepala sekolah, serta 11 orang PRT/ pengasuh.
Fakta paling kongkrit serta pahit: bahwasanya usaha one Daycare ini diduga beroperasi tanpa izin resmi sama sekali, alias "IZIN BODONG" Baru ketahuan setelah kasus ini bisa boombastis serta sangat meledak juga viral.
Supriyono Salah satu Relawan GAKORPAN menilai kasat mata dan Klasik baru di Negeri Indonesia ini — suatu bisnis penitipan anak bisa dijalankan seenak Jidat, dengan nada geram emosinya. Unsur pengawasan stake holder atau Dinas sosial terkait sangat rentan dan longgar, baru gercep serta evakuasi jika sudah viral dan ribut besar saat sudah jadi bahan perbincangan Media dan obrolan di warung kopi di ruang publik di semua platform...
Di balik nuansa kebohongan konsep awal humanis penuh senyum ramah tamah para pemilik dan review Google up yang kelihatan positif, anak-anak toch... menjadi korban. Konsolidasikan APH serta sistem yang mengutamakan keuntungan dan kontrol sosial masyarakat yang ketat daripada tumbuh kembang anak teraniyaya, terganggu fisik dan kejiwaan kronis.
Anak jika menangis? Ikat saja ujar PRT Pengawas geram...
Rewel!!?⁉️
Sumpal saja mulutnya atau kurung, basahin di kamar mandi.
Jika rewel, menangis jewer.
anak sangat Lapar, sakit, atau muntah,? Biarkan saja, asal orang tua tidak curiga saat menjemputnya...
Banyak orang tua memilih tempat ini karena harganya “Terjangkau” dan tampilan marketingnya meyakinkan.
Ternyata, di balik dinding itu, anak-anak mereka pulang dengan traumatisc luka lebam, atau perilaku dasar yang berubah drastis...
Kasus ini bukan sekadar kesalahan oknum pengasuh nakal. Ini kegagalan sistemik yang lebih luas: pengawasan perizinan dan dinas pendidikan yang lemah, orang tua yang terlalu percaya iklan tanpa verifikasi mendalam, serta tekanan ekonomi yang memaksa kedua orang tua bekerja keras hingga anak “diparkir” tanpa pengawasan ketat.
David Sianipar SH., MH., berkata Di era tuntutan hidup yang keras, daycare seharusnya menjadi benteng kedua perlindungan.
Di Little Aresha, benteng itu runtuh menjadi neraka kecil bagi generasi paling tak berdaya...
Model bisnisnya sungguh “Brilian” dalam cara sarkastik: bayar mahal untuk anak diikat seperti paket yang susah dikirim, janji fasilitas premium tapi realitanya lantai dingin dan kipas angin.
Pemilik mungkin berpikir anak kecil gampang diatur—rewel tinggal diikat, sakit tinggal dibiarkan. Sementara orang tua sibuk scrolling Media Sosial, anaknya sedang mengumpulkan luka batin seumur hidup.
Bonusnya: tanpa izin resmi, hemat biaya pengawasan dan pajak. Sangat efisien, kalau tujuannya memang memanen cuan dari penderitaan balita...
Skandal Little Aresha mengingatkan pola lama di mana tempat “Peduli Anak” justru jadi ladang eksploitasi karena anak tak bisa bicara atau melapor.
Mereka hanya bisa menangis, sakit saja atau menunjukkan trauma lewat perilaku—dan orang tua baru sadar setelah fakta sudah terlanjur viral.
Ini wake-up call keras bagi semua pihak. Orang tua harus berhenti romantisasi “daycare apa saja asal anak aman di tempat”.
Kunjungi mendadak tanpa pemberitahuan, tanya langsung orang tua lain, cek izin resmi di dinas terkait, dan amati interaksi pengasuh serta kondisi ruangan secara langsung. Jangan andalkan review online yang mudah dimanipulasi!❗
David Sianipar SH., MH., Praktisi Hukum Senior menghimbau kepada APH Polisi dan Pemerintah: Agar usut tuntas, bongkar, adili dan tangkap hingga ke akar, jangan berhenti di 13 tersangka.
Berikan pendampingan psikologis intensif bagi korban dan keluarganya. Lakukan evaluasi dan evakuasi besar-besaran terhadap seluruh Day care di Yogyakarta dan Indonesia; karena satu celah saja berarti puluhan atau ratusan anak lain berisiko mengalami hal serupa...
David Sianipar SH., MH., pengacara papan atas pun angkat bicara dan berkata Anak-anak bukan komoditas murah yang boleh dianiaya demi keuntungan.
Kalau kita biarkan pola kriminalisasi anak ini berulang, jangan salahkan suatu hari generasi penerus bangsa ini, gen Z akan mereka membawa traumatis kolektif yang jauh lebih besar kecenderungan waham bizar dan Psychopat permanen mekanisme balas dendam karena terhadap existensi traumatis masa kecilnya.
Peluk anakmu lebih erat malam ini, dan waspadalah...
Di balik label “Little” yang manis, bisa saja tersembunyi kegelapan yang dalam.
Kasus ini kini viral GAKORPAN Mengharapkan —kasus ini segera gazzpoll, terang benderang dan semoga keadilan, Progress perubahan regulasi, dan kesadaran para orang tua yang gampang menitipkan anak di TPA illegal dan bermasalah akhirnya nyawa anaknya akan menjadi taruhannya kelak dan juga menjadi viral oleh Media sosial fan DPP. GAKORPAN itu secara permanen. Presisi Polri.
"Salam GAKORPAN ASTA CITA PRESISI POLRI Menuju lndonesia Emas 2045, Macan Asia yang Merdeka "
(Redaksi: Tim lnvestigasi GAKORPAN Marcel gerungan.)$@
Diberitakan Oleh:
*(Dr. Bernard S. – Red)*
*Team Liputan – Tim Investigasi Lintas Media*
🌈🦋 🌈

Social Header