Diskusi GAKORPAN Soroti Dunia Pendidikan vs Startup, Kritik Kebijakan Digital dan Arah SDM Indonesia
Jakarta, Jum'at, 01 Mei 2026
Jakarta, MediaTargetKrimsus.com — Jakarta dalam kondisi kondusif. Pada Jumat (1/5/2026), digelar diskusi interaktif bedah kasus-kasus krusial yang mangkrak dan berjalan di tempat oleh Forum Kebangsaan, Bela Negara, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, UUD 1945, DPP GAKORPAN, Sarjana Pancasila, LBH Pers Prima Presisi Polri, LBH Rumah Besar Relawan Prabowo-Gibran 08, serta LBH Gerakan Solidaritas Nasional Suara Rakyat untuk Keadilan, Hukum, dan HAM.
Kegiatan bertajuk “Jum'at Berkah” yang digagas oleh Dr. Bernard BBBBI Siagian ini berlangsung meriah di Cirendeu Permai IV dan dihadiri sekitar 500 peserta. Hadir dalam kegiatan tersebut pemuka masyarakat, mahasiswa, aktivis ’98, aktivis anti-rasuah, akademisi, cendekiawan, pemerhati pendidikan dan sosial, pelaku bisnis, jurnalis, tokoh perempuan PPWI, serta unsur GAKORPAN.
Penyelenggaraan acara ini juga dimaksudkan untuk memperingati Hari Buruh Internasional.
Ketua Tim Pengacara, David Sianipar, mengumumkan topik utama diskusi, yakni pembahasan krusial dengan tajuk: “Dunia Pendidikan dengan Edukasi Pangsa Pasar Dunia Kerja: Startup dan Aplikasi Internet.”
Dalam sambutannya, Dr. Bernard menegaskan bahwa jati diri dunia pendidikan harus tetap berlandaskan pada ajaran Ki Hajar Dewantara, yakni: “Tut Wuri Handayani, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso.”
Ia menyampaikan bahwa pendidikan bukanlah startup dan tidak dapat diperlakukan seperti aplikasi yang bisa diuji gagal atau tidaknya secara instan, atau diperbarui layaknya versi unduhan berikutnya.
“Pendidikan memang bisa memanfaatkan teknologi untuk efisiensi waktu, tetapi bukan semata soal efisiensi. Pendidikan adalah proses panjang yang menyangkut perilaku SDM, adab, etika, moral, nilai budaya, serta arah peradaban,” tegasnya.
Menurutnya, pendekatan startup seperti pivot atau fail and fast tidak relevan jika diterapkan dalam dunia pendidikan. Kesalahan kebijakan dalam pendidikan dapat berdampak langsung pada satu generasi.
Dr. Bernard juga mengkritik bahwa perumusan kebijakan pendidikan sering kali tidak melibatkan pengalaman empiris para praktisi yang benar-benar memahami dinamika di ruang kelas, khususnya di daerah dengan keterbatasan fasilitas.
Ia menyoroti ketimpangan infrastruktur, seperti akses internet dan listrik di berbagai daerah, yang belum memadai untuk mendukung kebijakan pendidikan berbasis digital secara masif.
“Kebijakan sering lahir lebih cepat daripada pemahaman kondisi nyata di lapangan. Dalam dunia startup mungkin disebut fail and fast, tetapi dalam pendidikan ini lebih mirip fail silently—gagal tanpa suara, namun dampaknya merembes perlahan di akar rumput,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kondisi profesi guru yang dinilai mengalami degradasi, di mana lulusan non-pendidikan dapat menjadi guru melalui jalur cepat, sehingga menimbulkan pertanyaan terkait kualitas dan sistem pendidikan itu sendiri.
“Di sinilah perbedaan mendasar antara pendidikan dan startup. Pendidikan membangun manusia, sementara startup membangun pasar. Pendidikan membutuhkan kedalaman, ketekunan, dan kesinambungan, bukan sekadar inovasi teknologi,” tambahnya.
Acara ditutup dengan seruan:
“Salam GAKORPAN ASTACITA Menuju Indonesia Emas 2045, Macan Asia yang Merdeka.”
Diberitakan oleh:
*(Dr. Bernard S. – Red)*
*Tim Liputan – Tim Investigasi Lintas Media*
🌈🦋 🌈


Social Header