Irjen Pol Dr. Ronny F. Sompie dan GAKORPAN Bedah Krisis Sosial Jepang: “Ketika Penjara Menjadi Panti Jompo bagi Lansia”
Jakarta Kondusif, — Rabu, 13 Mei 2026.
Jakarta Kondusif, MediaTargetKrimsus.Com — Forum Kebangsaan dan Bela Negara yang digagas oleh Dr. Bernard BBBBI Siagian, SH., MA.Kp., Ketua DPP GAKORPAN, kembali menggelar diskusi publik bertema sosial, kemanusiaan, hukum, dan kebangsaan di Rumah Doa GAKORPAN Milkha Indonesia, Cirendeu Permai IV No.30, Tangerang Selatan.
Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 500 peserta dari kalangan aktivis, jurnalis, tokoh ormas, tokoh perempuan, serta unsur organisasi kemasyarakatan seperti Pemuda Pancasila, PPWI, Sarjana Pancasila, MAPANCAS, dan sejumlah lembaga sosial lainnya.
Dalam forum tersebut, Ronny F. Sompie menyampaikan bedah kasus bertajuk:
“Krisis Sosial Globalisasi: Penjara Jadi Panti Jompo di Jepang”
Diskusi ini menyoroti fenomena meningkatnya jumlah lansia di Jepang yang dengan sengaja melakukan pencurian kecil agar dapat dipenjara demi memperoleh makan, tempat tinggal, layanan kesehatan, dan teman hidup di masa tua.
Dr. Bernard BBBBI Siagian dalam sambutannya menegaskan pentingnya refleksi sosial dan spiritual di tengah tantangan globalisasi modern.
> “Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kita harus tetap bersabar, bertawakal, bersyukur, dan terus membangun kehidupan yang sehat, damai, serta penuh kepedulian sosial,” ujar Dr. Bernard.
Ia menambahkan bahwa fenomena sosial di Jepang harus menjadi pelajaran penting bagi bangsa Indonesia agar tidak mengabaikan persoalan kesejahteraan lansia dan krisis kemanusiaan di masa depan.
Fenomena Lansia Masuk Penjara di Jepang
Dalam pemaparannya, Irjen Pol Dr. Ronny F. Sompie menjelaskan bahwa berdasarkan White Paper on Crime 2022 dan 2023 dari Kementerian Kehakiman Jepang, sekitar 1 dari 5 narapidana perempuan di Jepang merupakan lansia berusia di atas 65 tahun.
Bahkan, tingkat residivisme lansia disebut mencapai sekitar 70 persen dalam lima tahun terakhir, dengan mayoritas kasus berupa pencurian kecil (shoplifting) seperti roti, nasi kepal (onigiri), sandwich, dan kebutuhan harian murah lainnya.
Menurut berbagai laporan media internasional seperti Bloomberg, BBC, dan The Japan Times, banyak lansia di Jepang mengaku lebih memilih hidup di penjara karena merasa kesepian, miskin, sakit-sakitan, dan tidak memiliki keluarga yang mendampingi mereka.
Salah satu contoh yang diangkat adalah seorang nenek berusia 78 tahun di Tokyo yang mencuri onigiri seharga sekitar 200 yen atau Rp22 ribu. Saat ditangkap, ia mengaku hidup sendiri dan merasa uang pensiunnya tidak cukup untuk bertahan hidup.
> “Kalau di penjara setidaknya saya tidak sendirian,” ungkap lansia tersebut dalam laporan media Jepang.
Empat Akar Masalah Sosial
Forum tersebut mengulas empat faktor utama penyebab meningkatnya kasus lansia masuk penjara di Jepang, yakni:
1. Kemiskinan Kronis Lansia
Banyak pensiunan hidup dengan penghasilan minim yang tidak sebanding dengan biaya hidup tinggi di kota besar seperti Tokyo.
2. Kesepian Ekstrem (Kodokushi)
Jepang menghadapi fenomena lansia meninggal sendirian tanpa keluarga atau pendamping sosial.
3. Sistem Penjara yang Humanis
Penjara di Jepang menyediakan makan tiga kali sehari, layanan kesehatan, tempat tidur layak, serta aktivitas rutin yang justru dianggap lebih baik dibanding kehidupan mereka di luar.
4. Hukuman Ringan untuk Pencurian Kecil
Kasus pencurian kecil sering hanya berujung hukuman singkat sehingga dianggap “jalan aman” bagi sebagian lansia miskin.
"Pelajaran untuk Indonesia"
Forum GAKORPAN menilai fenomena tersebut dapat menjadi gambaran masa depan apabila Indonesia tidak memperkuat sistem perlindungan sosial bagi lansia menuju Indonesia Emas 2045.
Beberapa solusi yang dibahas dalam forum antara lain:
– Penguatan komunitas sosial lansia,
– Program pekerjaan ringan bagi warga lanjut usia,
– Penguatan jaminan kesehatan dan bantuan sosial,
– Pendekatan Restorative Justice bagi lansia pelaku tindak pidana ringan,
– Pembangunan pusat kegiatan sosial dan kesehatan berbasis masyarakat.
Dr. Bernard menegaskan bahwa persoalan utama bukan karena penjara di Jepang nyaman, tetapi karena sebagian lansia merasa kehidupan di luar penjara jauh lebih berat akibat kemiskinan, kesepian, dan lemahnya dukungan sosial.
> “Ini bukan sekadar persoalan hukum, tetapi tragedi kemanusiaan dan peringatan sosial bagi dunia,” tegasnya.
Di akhir acara, forum menyerukan pentingnya pembangunan bangsa yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, gotong royong, keadilan sosial, serta semangat Pancasila dan UUD 1945.
“Salam GAKORPAN ASTA CITA menuju Indonesia Emas 2045, Macan Asia yang berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.”
*(Redaksi: Tim Investigasi DPP GAKORPAN dan LBH PERS Prima Presisi Polri.)*
Diberitakan oleh:
*(Dr. Bernard S. – Red)*
*Tim Liputan – Tim Investigasi Lintas Media*
🌈🦋 🌈

Social Header